SOLUSI ATASI DAMPAK PERCERAIAN PADA ANAK

11 03 2009
Akad pernikahan dalam ajaran agama Islam sedari awal dibangun sebagai ikatan langgeng dan suci yang harus dipertahankan dan dipegang dengan teguh, Karena itu, bangunan rumah tangga yang sakinah mawaddah dan rahmah, sebuah suasana keluarga yang penuh  kedamaian, kasih sayang, cinta, sejahtera dan harmonis adalah tujuan utama yang sejak awal didambakan, dan senantiasi dipelihara dan selalu diupayakan untuk terwujud. Allah SWT menyebut ikatan pernikahan sebagai ikatan dan perjanjian yang amat kukuh (mitsaqan ghalizhan), jika setiapkali ada upaya untuk meremehkan atau melemahkan janji pernikahan yang suci itu, apalagi memutuskannya, akan dibenci oleh Allah sebagaimana sabda Rasul, “Sesuatu yang (pada dasarnya) halal tetapi sangat dibenci (atau paling tidak dibenci) Allah adalah talak (perceraian)” (HR. Abu Daud dan Al-Hakim). Dalam pandangan nabi, merusak ikatan suci pernikahan tak lebih melakukan pelanggaran yang serius karena mengundang  kebencian Allah. Bahkan orang seperti itu dianggap tak lagi berhak mendapatkan kemuliaan. Dalam salah satu hadits, nabi bersabda, “Tidak termasuk golongan kami, siapa-siapa yang berupaya merusak hubungan mesra (atau kasih sayang) seorang istri terhadap suaminya.” (HR. Abu Daud dan Nasa`i)Akan tetapi  Allah SWT memiliki kebijaksanaan yang tak terbatas, tidak semua perkawinan bisa berlangsung damai, kekal dan abadi sampai salah satu dari pasangan itu dijemput kematian. Tak menutup kemungkinan, seiring berjalannya waktu, ikatan pernikahan itu tak dapat dipertahankan lagi dengan berbagai alasan. Bahkan seandainya pernikahan itu pun dipertahankan, justru akan mendatangkan mudharat yang lebih besar, baik terhadap suami, istri atau sang anak.  Allah menganjurkan supaya masing-masing pihak (suami atau istri) menahan diri, sebagaimana firman Allah, “… dan pergaulilah mereka (yakni para istri) dengan sebaik-baiknya. Kalaupun kamu adakalanya tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) siapa tahu kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang amat banyak  (QS. an-Nisa` [4]: 19).

Perceraian merupakan sebuah solusi karena dalam keadaan darurat atau sebagai pilihan terakhir karena jika pernikahan diteruskan bisa jadi akan mendatangkan madharat. Pilihan untuk mengakhiri pernikahan dengan perceraian  memiliki rangkaian dampak yang tak bisa dianggap sepele  bagi kedua belah pihak, setidaknya baik bagi sang mantan istri maupun mantan suami akan menyimpan sejarah kelam dalam bayang-bayang trauma atau kenangan pahit. Holmes dan Rahe memasukkan perceraian sebagai  penyebab stres kedua paling tinggi, setelah kematian pasangan hidup.

Perceraian seringkali berakhir menyakitkan bagi pihak-pihak yang terlibat, termasuk di dalamnya adalah anak-anak, mereka sangat merasakan pahitnya akibat perceraian kedua orang tuanya. Anak-anak  tiba-tiba saja harus menerima keputusan yang telah dibuat oleh orangtua, tanpa sebelumnya punya ide atau bayangan bahwa hidup mereka akan berubah. Tiba-tiba saja bapak tidak lagi pulang ke rumah atau ibu pergi dari rumah atau tiba-tiba bersama bapak atau ibu pindah ke rumah baru. Bagi anak-anak, perceraian merupakan kehancuran keluarga yang akan mengacaukan kehidupan mereka, paling tidak perceraian  menyebabkan munculnya rasa cemas terhadap kehidupannya di masa kini dan di masa depan. Anak-anak yang ayah-ibunya bercerai sangat menderita, dan mungkin lebih menderita daripada orangtuanya sendiri. Richard Bugeiski dan Anthony M. Graziano (1980) menyatakan bahwa dua tahun pertama setelah terjadinya perceraian merupakan masa-masa yang amat sulit bagi anak anak. Mereka biasanya kehilangan minat untuk pergi dan mengerjakan tugas-tugas sekolah, bersikap bermusuhan, agresif depresi, dan dalam beberapa kasus ada yang bunuh diri. Anak-anak yang orangtuanya bercerai menampakkan beberapa gejala fisik dan stres akibat perceraian tersebut seperti insomnia (sulit tidur), kehilangan nafsu makan, dan beberapa penyakit kulit. Riset menunjukkan, setelah kira-kira dua tahun mengalami masa sulit dengan perceraian orangtuanya, sampailah anak-anak tersebut ke masa keseimbangan atau masa equilibrium. Di masa itu, kesusahan dan penderitaan akut yang mereka alami sejak terjadinya perceraian mulai berkurang. Anak-anak telah belajar menyesuaikan diri dan melanjutkan kehidupan mereka. Namun, perceraian orangtua tetap menorehkan luka batin yang menyakitkan bagi mereka.

Selain beberapa dampak di atas, dalam beberapa kasus terjadi anak yang
orangtuanya bercerai, pada saat dewasa, menjadi takut untuk menikah. Dia khawatir perkawinannya nanti akan mengalami nasib yang sama seperti orangtuanya. Apalagi jika anak sudah besar dan punya keinginan untuk menyelamatkan perkawinan orangtuanya, tapi tidak berhasil. Ia akan merasa sangat menyesal, merasakan bahwa omongannya tak digubris, merasa diabaikan, dan merasa bukan bagian penting dari kehidupan orangtuanya. Kasus yang lain, anak yang orangtuanya bercerai, pada saat dewasa jadi membenci laki-laki atau perempuan karena menganggapnya sama dengan ayah atau ibunya yang telah menghancurkan keluarganya. Karen Rudolp, Profesor Psikologi pada University of Illinoi memberikan gambaran bahwa anak lebih tertekan daripada anak yang hidup dengan orangtua lengkap, apalagi jika orangtua menunjukkan rasa saling bermusuhan secara terbuka di depan anak. Kualitas hubungan ini mempengaruhi prestasi anak dalam jangka panjang. Anak yang merasa tidak ada yang mengawasi pekerjaan sekolahnya, tidak merasa perlu melakukan banyak usaha untuk berbuat baik yang pada akhirnya,mereka pun tidak memiliki kualitas personal yang baik. Sementara itu, Robert Hughes, psikolog dan profesor pengembangan sumber daya manusia menyatakan anak-anak korban perceraian berada pada risiko lebih tinggi terhadap pemakaian obat-obatan terlarang, aktivitas seksual dini, serta masalah dengan saudara kandung, teman, dan juga orangtua. Namun, dia menambahkan, tidak berarti anak tersebut mengalami malapetaka. Sebab, beberapa kajian menunjukkan hampir 80 persen anak korban orangtua bercerai tidak menderita gangguan jangka panjang. Jika orangtua mampu memperbaiki dengan cepat pukulan emosional mereka atas perceraian tersebut dan melanjutkan kembali peran mereka sebagai orangtua, anak-anak pasti akan baik-baik saja.

Jika memang perceraian adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh dan tak terhindarkan lagi, orang tua perlu melakukan tindakan terbaik   untuk mengurangi dampak negatif perceraian tersebut bagi perkembangan mental anak-anak mereka. Dengan kata lain  orangtua harus menyiapkan anak agar dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi akibat perceraian. Agar dampak perceraian dapat diminimalisasi pada anak, orang tua harus memastikan diri melakukan  langkah-langkah terbaik. Ketika perceraian terjadi merupakan masa yang kritis buat anak, terutama menyangkut hubungan dengan orangtua yang tidak tinggal bersama. Berbagai perasaan berkecamuk dalam batin anak-anak. Pada masa ini anak juga harus mulai beradaptasi dengan perubahan hidupnya yang baru. Agar anak sukses beradaptasi, begitu perceraian sudah menjadi rencana orangtua, segeralah memberi tahu anak bahwa akan terjadi perubahan dalam hidupnya, bahwa nanti anak tidak lagi tinggal bersama mama dan papa, tapi hanya dengan salah satunya. Berita ini perlu disampaikan bersama-sama pada anak,  keputusan itu diambil untuk kebaikan bersama, pernikahan ini diawali oleh cinta, dan sebenarnya orang tua mengharapkan untuk selalu bersama. Tetapi setelah dijalani hal tersebut tidak terlaksana. Pastikan pula bahwa perpisahan ini bukan salah anak, orang tua  tetap akan mencintai mereka dan selalu menemani mereka sekalipun berpisah

Sekalipun tergolong sulit, sebaiknya orang tua  tidak mengungkapkan hal-hal buruk tentang mantan pasangan. Tidak saling mengkritik atau menjelekkan salah satu pihak orangtua di depan anak. Tidak menempatkan anak di tengah-tengah konflik. misalnya dengan menjadikan anak sebagai pembawa pesan antar kedua orangtua, menyuruh anak berbohong kepada salah satu orangtua, menyuruh anak untuk memihak pada satu orangtua saja. Hal yang perlu diperhatikan adalah pada masa transisi., yakni kondisi yang paling menegangkan bagi anak ketika dia pergi meninggalkan orang tua yang satu ke orang tua yang lain. Hal ini disebabkan karena anak merasakan ketegangan di antara kedua orang tuanya.  Kondisi ini dapat diatasi dengan memberi penguatan positif bahwa bapak atau ibu  dan mantan pasangan mencintai mereka, dan sangat ingin mereka menikmati suasana yang gembira ketika berada bersama

Langakah lain adalah tetap mengasuh anak bersama-sama dengan mengenyampingkan perselisihan,  pastikan bahwa mantan pasangan tahu bahwa masing-masing sangat menginginkan keterlibatannya dalam kehidupan anak. Hal ini akan membuat mantan pasangan merasa lebih nyaman ketika ia akan bertemu dengan anak. Orang tua juga sebaiknya memperkenankan anak untuk mengekspresikan emosinya. Beresponlah terhadap emosi anak dengan kasih sayang, bukan dengan kemarahan atau celaan. Anak mungkin bingung dan bertanya, biarkan mereka bertanya, jawablah pertanyaan tersebut baik-baik, dan bukan mengatakan “anak kecil mau tahu saja urusan Bapak atau Ibu”.

Kalau perceraian memang tak terhindari lagi, maka merupakan sebuah langkah bijaksana bila  membuat perceraian tersebut menjadi perceraian yang tidak merugikan anak. Suami-istri memang bercerai, tapi jangan sampai anak dan orangtua ikut juga bercerai. Anak-anak sangat membutuhkan cinta dari kedua orangtua dan menginginkan kedua orangtuanya menjadi bagian dalam hidup mereka. Bagi anak, rasa percaya diri, rasa diterima dan bangga pada dirinya sendiri bergantung pada ekspresi cinta kedua orangtuanya.


Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.