KELOLA CEMBURU DALAM MENGGAPAI KELUARGA SAMARA

11 03 2009
Rumah tangga yang sakinah  mawaddah dan rahmah (samara) merupakan dambaan setiap insan, baik bagi  yang belum memasuki jenjang pernikahan maupun bagi yang tengah menapakinya. Mendirikan rumah tangga samara bukanlah pekerjaan yang ringan, karena di dalamnya diperlukan usaha sungguh-sungguh, pengorbanan yang tinggi, saling memahami antara suami istri, dan sikap ikhlas dalam menerima kelemahan masing-masing.  Dalam realitas kehidupan suami istri menunjukkan  ada banyak biduk yang karam dihempas gelombang, ada banyak insan yang harus melepas impian “baiti jannati” rumahku surgaku. Tak ada lagi manisnya madu pernikahan, yang tersisa hanya empedu dan kegetiran, rumah tangga yang mengalami kebekuan, kurang harmonis dan tidak sehat..Problem dalam berumah tangga merupakan sebuah suratan taqdir yang mesti ada dan terjadi. Salah satu problem dalam rumah tangga adalah hadirnya perasaan cemburu di antara pasangan suami istri. Perasaan cemburu adalah ketidaksukaan bergabungnya orang lain pada haknya. Sesungguhnya perasaan cemburu adalah tabiat yang alami, merupakan fitrah yang tercipta pada diri setiap manusia, sesuai dengan tabiat manusiawi yang dipupuk dengan nilai-nilai keimanan. Ia berfungsi sebagai penjaga kemuliaan dan kehormatan manusia. .Jika ada manusia yang tidak memiliki rasa cemburu,maka ia telah kehilangan fitrah dan nuraninya. Barangsiapa mengabaikan sifat cemburu yang bisa lebih menguatkan hubungan cinta di antara suami isteri, maka ia hidup dengan hati yang rusak dan melenceng dari fitrahnya. Suami yang mengabaikan rasa cemburu  dikatakan sebagai dayyuts, yang diancam oleh Rasulullah SAW ““Tiga golongan manusia yang Allah Tabaraka wa Ta’ala mengharamkan surga bagi mereka, yaitu pecandu khamr, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan dayyuts yang membiarkan kefasikan dan kefajiran dalam keluarganya .” HR. an-Nasa’i, Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Pengertian dayyuts sendiri adalah seorang lelaki/suami yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarga/istrinya. Karena tidak ada rasa cemburu tersebut, ia membiarkan perbuatan keji terjadi di tengah keluarganya. Mereka merupakan pria yang tidak memiliki rasa cemburu, yang tidak pantas untuk mendapatkan kenikmatan Allah subhanahu wata`ala kelak di hari kiamat. Padahal mereka seharusnya justeru menjaga dan menyelamatkan wanita-wanita mereka dari lembah kenistaan, dan mengajarkan syariat-syariat Allah subhanahu wata`la yang dapat menyelamatkan mereka dari kesesatan.

Rumah tangga Rosulullah SAW pun tak luput dari problem yang  disebabkan oleh perasaan cemburu. Disebutkan dalam sebuah riwayat, Anas radhiallahu `anhu berkata:
”Suatu ketika Nabi di rumah salah seorang isteri beliau. Tiba-tiba isteri yang lain mengirim mangkuk berisi makanan. Melihat itu, isteri yang rumahnya kedatangan Rasul memukul tangan pelayan pembawa makanan tersebut, maka jatuhlah mangkuk tersebut dan pecah. Kemudian Rasul mengumpulkan kepingan-kepingan pecahan tersebut serta makanannya, sambil berkata: “Ibu kalian sedang cemburu,” lalu Nabi menahan pelayan tersebut, kemudian beliau memberikan padanya mangkuk milik isteri yang sedang bersama beliau untuk diberikan kepada pemilik mangkuk yang pecah. Mangkuk yang pecah beliau simpan di rumah isteri yang sedang bersama beliau.” Ibnu Hajar menjelaskan bahwa isteri Nabi shollallahu `alaihi wa sallam yang memecahkan mangkuk adalah `Aisyah Ummul Mukminin, sedangkan yang mengirim makanan adalah Zainab binti Jahsy.

Hal yang  menyebabkan timbulnya cemburu antara lain pudarnya mawaddah warahmah. Kalau salah satu kondisi ini tidak tercapai.pasti akan timbul rasa cemburu. Padahal salah satu tujuan pernikahan adalah mewujudkan mawaddah dan rahmah (ar-Rum : 21).  Dalam hubungan suami istri Al-Qur’an mengistilahkannya sebagai mitsaqan ghalidza, ikatan lahir dan batin yang teramat kuat,. mitsaqan ghalidza ini akan rusak,bila suami istri memiliki ikatan  dengan orang lain,atau ada wanita atau laki-laki lain dalam rumah tangga .Bila di hati suami atau istri ada orang lain selain pasangannya,maka akan menimbulkan cemburu. Perasaan cemburupun bisa datang seiring berkurangnya perhatian dan pengertian pasangan. Kecemburuan lahir karena adanya rasa memiliki dalam diri. Ketika orang yang dikasihinya memberikan perhatian kepada orang lain,rasa cemburu itu akan muncul.

Seperti halnya bentuk emosi lain seperti marah,sedih,suka,benci dan lain sebagainya cemburu adalah bentuk emosi yang biasa hadir dalam sebuah hubungan. Diduga pencetus utamanya adalah terganggunya rasa aman dalam hubungan cinta dalam hubungan suami istri. Ketika seseorang merasa aman dengan pasangannya,dalam arti tidak akan membagi cintanya dan perhatiannya dengan yang lain,otomatis rasa cemburu itu tidak akan muncul. Sebaliknya,seseorang tidak akan merasa aman,bila ia berpikir pasangannya akan membagi cinta.  Menurut James Park dalam bukunya Loving Without Jealously (Mencintai Tanpa Cemburu),. ada tiga hal yang dapat membangkitkan rasa cemburu dalam hubungan cinta, yaitu pembandingan,persaingan,dan takut kehilangan. Sangat wajar bila seseorang yang merasa hubungan cintanya tidak aman,akan terobsesi untuk membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain..Kemudian lahir obsesi untuk bersaing dengan siapa pun yang diduga akan merebut hati pasangannya yang pada ujung-ujungnya adalah takut kehilangan pasangan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengelola cemburu, sehingga rasa cemburu tidak menjadi bencana bagi sebuah keluarga. Hal yang terpenting dalam manajemen cemburu adalah menghadirkan rasa aman dalam diri setiap pasangan dengan dua ikhtiar, yakni ikhtiar batin dan kedua ikhtiar lahir. Rasa aman itu tempatnya di hati.Hati akan diselimuti rasa aman,tenang,dan tentram bila digantungkan kepada Allah Swt.Dzat yang membolak-balikkan hati.Difirmankan dalam Qs.Ar-Ra’d ayat 28,……dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.Ingatlah,hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.Orang yang hatinya bulat kepada Allah,tidak akan pernah takut kehilangan apapun,termasuk pasangan hidupnya.Sebab,ia sudah “menitipkannya”Kepada Allah.”Ya Allah,sesungguhnya suami/istriku adalah milik-Mu.Maka berilah penjagaan kepadanya agar terhindar dari fitnah dan keburukan nafsu.Berikanlah yang terbaik baginya.”. Tidak cukup hanya menyerahkan kepada Allah.Ikhtiar lahir pun harus dijalankan.Misalnya dengan saling menasihati,membangun komunikasi aktif sehingga tumbuh rasa saling percaya dan hilangnya prasangka,terus menigkatkan kualitas,dan sebagainya. Ketika ikhtiar lahir dan batin dijalankan secara optimal,insya Allah kehidupan rumah tangga akan berjalan lebih harmonis.Adapun rasa cemburu itu tetap hadir,maka kehadirannya akan menambah sedapnya hubungan cinta suami istri bagaikan bumbu menyedapkan masakan.

Beberapa langkah  dapat ditempuh untuk memadamkan bila api cemburu mulai menyala, antara lain jangan mendramatisasi rasa cemburu (Mujahidah, 2006), api cemburu akan semakin besar bila mendramatisasi.”Pasti suami saya sedang…….ia pun akan dingin kepadaku. Lalu menikah lagi.  Istri saya mungkin sedang ……….”,  atau ungkapan-ungkapan lain yang akan menambah berkobarnya api cemburu. Tegaskan pada diri sendiri untuk berhenti setiap kali pikiran berkembang tak terkendali. Dan tetap berpikir positif, hilangkan  anggapan bahwa semua laki-laki/wanita itu tidak dapat dipercaya, menyalahkan orang lain, dan lain sebagainya. Usahakan tidak termakan emosi, cari informasi yang BAL (Benar,Akurat,dan Lengkap), apakah benar pasangan telah”membagi cinta”, bila benar,cari pemecahan masalah yang menguntungkan kedua belah pihakn  dan  introspeksi diri.

Mengalihkan perhatian perasaan cemburu ke hal-hal lain merupakan langkah berikutnya  untuk meredam cemburu, jangan terlalu memfokuskan diri pada perasaan cemburu. Semakin hati menghayati hadirnya rasa cemburu,maka hati akan semakin panas,pikiran menjadi tidak objektif dan badan panas dingin.Alihkan pada hal-hal produktif,seperti menyibukkan diri dengan pekerjaan,anak,hobi,atau ibadah. Untuk membuat hati menjadi plong, langkah terbaik yang dapat dilakukan dengan megeluarkan unek-unek Saat hati sedang panas,ambil buku catatan,lalu tumpahkan isi  sepuas-puasnya dengan membuat puisi,surat atau  lagu yang berkaitan dengan isi hati, bisa pula dengan menangis.

Langkah yang tidak boleh diabaikan adalah dengan membangun komunikasi terbuka. Keterbukaan antara suami atau istri,mulai dari hubungan intim,masalah nafkah,masalah pergaulan,masalah bahasa,sampai masalah keluarga itu sendiri.Dengan adanya keterbukaan,semua masalah akan lebih mudah diselesaikan. Selanjutnya adalah membangun rasa saling percaya, menumbuhkan rasa saling percaya antara kedua belah pihak dengan cara menghilangkan berbagai prasangka yang berpotensi membangkitkan rasa tidak percaya kepada pasangan. Cemburu memang perlu, bahkan harus. Namun harus disikapi secara proporsional. Jangan sampai, karena terbakar api cemburu, terlebih hanya karena dipicu kecurigaan yang tidak beralasan, justru menyulut persoalan yang jauh lebih besar, membangun sikap saling percaya mesti menjadi langkah awal saat memasuki kehidupan rumah tangga. Namun cemburu jangan disertai dengan berburuk sangka (su`u zhan) yang tidak dilandasi bukti dan akal sehat, dan juga selalu mengontrol dan mengawasi pasangannya dalam segala perbuatannya, sehingga seorang suami/istri selalu tajassus, memata-matai pasangannya, selalu penuh curiga dan memandang dengan tatapan menuduh. yang bisa berujung petaka. Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. AlHujurat/49:12)..


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s