KOMUNIKASI NILAI MORAL KEPADA ANAK

11 03 2009

Anak merupakan aset keluarga yang sangat penting yang harus dijaga dan diasuh dengan baik, anak juga bagian dari anugerah sekaligus amanat yang paling berharga dalam kehidupan, suasana rumah tangga menjadi semarak dan indah lantaran kehadiran anak. Tawa dan canda  serta tangis anak bisa meluruhkan jiwa orang tua yang lelah dan letih karena seharian bekerja. Anak itu manusia masa depan yang secara potensial akan menyelenggarakan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Anak juga dapat berperan sebagai perhiasan selain harta benda (QS 18:46). Harta dan anak-anak  merupakan perhiasan kehidupan dunia. Semua orang ingin mendapatkan perhiasan yang menarik, menyenangkan dan berharga. Harapan orang tua pada anak, mereka  dapat memberikan hiburan, menjadikan orang tua terhormat dan menjadi tumpuan kesejahteraan hidup orang tua, orang tua merasa bangga dan mendapatkan kesejahteraan luar biasa bila anaknya sukses lahir batin.

Selain itu anak juga dapat memberikan kesejukan dan ketenangan hati bagi kedua orang tuanya, juga berperan sebagai harapan orang tua agar anaknya menjadi pemimpin yang baik dalam kehidupan masyarakat ( QS  25 : 74), sebaliknya anak juga bisa menjadi musuh bagi ke dua orang tua (QS 64 : 14), saat perilaku anak sangat merepotkan orang tua, dalam istilah jawa dikenal anak polah bopo kepradah.

Di sisi lain anak juga merupakan ujian dan cobaan bagi kedua orang tuanya (QS 64 :15, 8 : 28). Ayat tersebut mengingatkan bahwa anak sebagai ujian dan cobaan bagi orang tua terutama dalam menyiapkan mereka menjadi generasi yang mampu, cakap dan berhasil melaksanakan tugas kekholifahannya di masa mendatang. Kalau anak sebagai ujian dan cobaan berarti orang tua harus siap terpanggil untuk mempersiapkan kebutuhan jasmani dan rohani anak agar  anak dan seluruh anggota keluarga lain terhindar dari api neraka (QS 66 : 6).

Maka sudah menjadi kewajiban moral bagi orang tua untuk mengkomunikasikan nilai-nilai moral/akhlak terpuji sehingga tertanam dalam jiwa anak. Keberhasilan orang tua mengkomunikasikan nilai-nilai moral/akhlak terpuji sehingga anak menjadi anak yang sholeh sholehah yang memiliki nilai-nilai  moral atau akhlak yang terpuji merupakan salah satu tolak ukur keluarga yang SAMARA (sakinah mawaddah  dan rahmah). Begitu pentingnya akhlak terpuji bagi anak, Imam Ghozali menyatakan bahwa sesungguhnya nilai suatu bangsa sangat ditentukan akhlak (moral) generasinya, apabila baik akhlaknya maka baik pula bangsa itu dan apabila rusak akhlaknya maka rusak pula bangsa itu.

Komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak sangat menentukan berhasil tidaknya proses penanaman nilai-nilai moral. Komunikasi ini ada dua yakni komunikasi kepada anak dan komunikasi bersama anak (Fauzil Adhim, 2005). Komunikasi kepada anak maksudnya  bagaimana orang tua berbicara kepada anak, menyatakan maksud dan nasehat kepada anak serta mendiskusikan sesuatu  dengan anak, termasuk dalam kategori ini antara lain menyuruh, melarang, menganjurkan, menceritakan sesuatu serta bentuk-bentuk komunikasi lain yang ditujukan dan diungkapkan secara langsung kepada anak. Adapun komunikasi bersama anak berarti segala bentuk perilaku komunikasi yang tidak ditujukan kepada anak tetapi anak dapat menangkap dan mendengarnya, misalnya cara seorang suami berbicara dengan istri yang dilihat oleh anak, maka anak akan menerimanya sebagai proses belajar dan secara otomatis anak akan mempersepsi apa yang ia lihat, dengar dan rasa.

Agar komunikasi orang tua dengan anak berjalan dengan baik dan anak tetap memiliki harga diri ada beberapa hal yang patut diperhatikan , antara lain  menghindarkan berkata dengan membentak dan berkata kasar serta perbuatan kasar kepada anak,menghindarkan kata menuduh dan menyalahkan, menghindarkan menggunakan kata “kamu” dan memakai kata “saya”, membina hubungan intim dengan anak, mengatakan nilai moral dan memberikan alasannya pada anak serta orang tua hendaknya menjadi teladan bagi anak (Kathleen, 1999).

Dalam berbicara dengan anak orang tua harus memperhatikan nada suara, kadang-kadang anak-anak melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu sesuai atau kadang tidak sesuai dengan keinginan orang tua. Dalam hal ini harus dihindari kata-kata yang membentak atau kata-kata dalam bentuk ancaman karena hal ini akan menyebabkan anak akan merasa tambah jengkel dan adanya perasaan tidak adil. Orang tua menyalahkan anak dengan beranggapan bahwa anak telah melanggar atau nakal sementara anak merasa orang tualah yang menyebabkan permasalahan.

Disamping itu patut dihindari pula perbuatan kasar kepada anak karena hal ini secara psikologis akan mempengaruhi kondisi mental anak. Nabi SAW telah memberikan contoh terbaik, ketika ada orang yang merenggut anak secara kasar dari gendongan Rosulullah karena pipis, Rosulullah menegur : pakaian yang basah ini dapat dibersihkan dengan air tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak akibat renggutanmu yang kasar ?

Selain kata-kata dan perbuatan kasar orang tua juga perlu menghindarkan diri dari kata-kata yang menuduh, mengkritik, menyalahkan dan memberikan evaluasi yang salah yang justru akan menurunkan harga diri anak. Misalnya : “Kamu memang anak yang lamban dan bodoh!”, “Sudah beberapa kali saya katakan ….apa kamu tuli?”, “apakah kamu tidak punya otak ?”. Anak-anak yang sering dijatuhkan harga dirinya dengan sebutan bodoh, malas dan lain sebagainya akan melihat dirinya sebagai anak yang tidak baik, sebagai akibatnya anak akan menerima tuduhan tersebut dan mempercayai bahwa memang dirinya sesuai dengan sebutan tersebut. Kondisi yang buruk yang dibentuk sejak kanak-kanak akan menjadi hambatan bagi kemajuan anak di masa mendatang.

Berikutnya dalam hubungan dengan anak orang tua juga harus menghindari penggunaan kata “kamu” atau “engkau’, misalnya “Engkau anak yang kasar, kamu bertindak seperti bayi”. Prinsip komunikasi dengan menggunakan kata “saya” lebih baik digunakan dalam hubungan dengan anak, misalnya “Saya (bapak/Ibu) lelah, saya (bapak/Ibu) perlu istirahat”. Penggunaan kata “kamu’ hanya sebagai evaluasi atas tindakan anak sedangkan kata “saya” menyebabkan anak mengerti akan perasaan orang tua (Kathleen, 1999), yang lebih berdaya guna untuk mempengaruhi anak untuk mengubah tindakannya yang tidak terpuji. Kata “saya” tidak memberikan ancaman, tetapi menunjukkan bahwa ada tindakan yang telah anak perbuat yang memerlukan  suatu perubahan, melalui ini orang tua mengkomunikasikan kepada anak adanya satu tanggung jawab untuk mengubah perilakunya.

Selanjutnya orang tua harus mampu membina hubungan yang intim dengan anak. Suatu cara yang terbaik mengkomunikasikan moral adalah dengan melalui hubungan yang bermakna satu sama lain, dengan cara ini akan memberikan interaksi yang maksimal. Dari jarak jauh bisa saja orang tua memberikan kesan yang baik kepada anak, akan tetapi untuk memberikan pengaruh yang mampu mengubah anak, orang tua harus memiliki hubungan yang  dekat atau hubungan intim dengan anak yang berarti orang tua menjadi sahabat bagi anak-anak, senantiasa siap memberikan pendapat atau pertolongan kapan saja orang tua dibutuhkan oleh anak.

Rosulullah SAW menegaskan pentingnya hubungan intim ini dengan perilaku sangat manusiawi, Rosulullah sering keluar rumah sambil menggendong Hasan dan Husein, yang satu di sebelah kanan yang satu di sebelah kiri. Pada kesempatan lain  suatu hari Rosulullah melihat Husein di tempat umum bermain dengan teman sebayanya, beliau langsung membentangkan tangannya seraya mengejar hendak menangkap Husein, sang cucu berlari ke sana kemari, Rosulullah terus mengejar sambil tertawa senang kemudian Husein di tangkap, dipeluk dan dicium. Dari Ibnu Abbas, Rosulullah pernah menyatakan : “Akrabilah anak-anak kamu dan didiklah mereka dengan baik”. Dalam sabdanya yang lain Rosulullah juga menyatakan bermain-mainlah kamu dengan anakmu hingga ia berusia tujuh tahun, kemudian latihlah ia berdisiplin pada tujuh tahun berikutnya kemudian anggaplah ia temanmu pada tujuh tahun berikutnya setelah itu biarkanlah ia tidak bergantung lagi kepadamu (mandiri).

Cara lain yang bisa ditempuh adalah dengan mengatakan nilai-nilai moral dan memberikan alasannya. Dalam mengkomunikasikan nilai-nilai moral, sejak awal orang tua harus mengatakan nilai-nilai tersebut serta menjelaskan mengapa orang tua ingin  anak-anak memiliki nilai tersebut. Bila anak-anak merasa jelas mengapa harus memiliki nilai moral yang tinggi maka nilai tersebut akan tertanam dalam pikiran mereka bahkan bisa menjadi alat dalam menyampaikan nilai-nilai tersebut kepada orang lain. Ketika orang tua mengatakan anak-anak tidak boleh mengkonsumsi minuman keras  misalnya, maka patut dijelaskan kepada mereka mengapa mereka diharapkan menjauhi minuman keras , saat yang sama orang tua juga harus menghindarkan dari minuman keras  sebagai teladan dalam memiliki nilai-nilai sesuai dengan yang dikatakan.

Yang tak kalah penting  orang tua hendaknya menjadi teladan bagi anak, hal ini sangat vital dalam mengkomunikasikan nilai-nilai kepada anak. Penanaman nilai moral akan tertanam pada anak bila  tidak hanya doktrin dan sekedar aspek pengetahuan  belaka, mental anak akan bertambah kuat bila ia juga mendapat contoh atau teladan dari orang tua, keluarga dan lingkungannya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s