WETON KAWIN

11 03 2009
Bus jurusan Semarang- Blora itu melaju dengan sangat kencang, membuat angin besar saat aku berpapasan dengannya, hampir saja aku terjatuh terhempas di sungai kecil pinggir jalan, sepeda motorku oleng, masih beruntung aku dapat menguasai keadaan. Sementara orang-orang hanya memandangku dengan sorot mata kasihan, membuat aku jadi kikuk dan malu. Kaca depan bus bagian atas yang bertuliskan Jaka Tua seakan menyindirku, semakin membuatku kesal dan mengumpat dalam hati. Astagfirullah al adzim………cepat aku ucapkan lirih.
Betapa tidak kesal, julukan Jaka Tua itulah yang senantiasa kudengar dari orang-orang sekitar, mereka meledek dan mengolok-ngolokku karena sampai umur tiga puluh lima tahun ini, aku belum menikah, umur yang terlalu tua untuk ukuran pemuda lajang di kampungku. Teman sebayaku sebagian besar sudah menikah, bahkan mempunyai anak. Parno misalnya, dia sudah mempunyai dua anak, bahkan Damin yang sangat pemalu itu sekarang sudah mempunyai momongan tiga. Aku harus sering bersabar menerima ledekan mereka. “Bi, Rebi…sebenarnya kamu “bisa” nggak sih, kok nggak segera menikah ?” ledek Parno pada suatu hari. “Bisa bagaimana ?” tanyaku tidak mengerti. “Lha ya bisa itu….tu….” kata Parno sambil tertawa kecil. “Itu apanya…?”aku semakin tidak mengerti dan mulai sedikit kesal. “Sudahlah Parno, kamu jangan mengganggu Rebi terus, dia tidak akan mengerti, maklum aja, sudah kasep.., Jaka Tua….!” kata Kasim yang lagaknya membelaku tetapi justru membuatku semakin kesal. Pihak keluargakupun galau dengan status lajangku. “Makanya Bi, jangan pilah-pilih, cepatlah menikah !”, demikian desakan Pa De Marto setiap kali aku bersilaturahmi.
Dua belas tahun lalu, sebenarnya aku sudah berniat mengakhiri masa lajangku dengan seorang gadis yang sangat saya cintai, gadis pilihanku sendiri, Marsini namanya, yang mulai aku kenal dengan baik sejak aku mengajar di Madrasah Diniyyah sore, kebetulan gadis tersebut juga ikut membantu mengajar. Madrasah tersebut merupakan satu-satunya sekolah agama di kampungku, kampung yang masih awam tentang agama atau abangan. Sebagian besar masyarakat masih kurang faham dan mengerti ajaran agama, termasuk kami yang sebenarnya tidak layak disebut ustadz madrasah diniyyah, hanya bermodal baca tulis al quran yang belum sempurna fasih, masih grothal grathul, kami di ajak oleh Bapak Rukin, guru agama SD negeri 1 yang kost di rumah Pak Lurah, bersama-sama merintis pendirian madrasah tersebut.
Generasi tua masih memegang tradisi lama dengan ketat, kata-kata orang tua zaman dulu atau kebiasaan yang sudah ada menjadi aturan baku yang senantiasa menjadi pedoman mereka. Bila akan bepergian atau akan punya hajat khitanan atau hajat lain harus dengan perhitungan hari dan pasaran hari lahir atau weton, bila akan mendirikan rumah harus mendapat restu simbah yang mbaurekso pohon asem yang berdiri kokoh di pinggir desa dengan mengirimkan aneka warna sesajen. Sekolah Arab –demikian orang kampung menyebut Madrasah Diniyyah – lambat laun sedikit banyak memberikan pengaruh pada pemikiran masyarakat terutama pada remaja dan para pemuda, mereka semakin mengerti dan menyadari perbedaan mana yang ajaran agama dan mana yang hanya tradisi, yang tidak harus dijadikan pedoman hidup secara kaku. Hal ini berakibat terjadinya gesekan pendapat antara generasi tua dan generasi muda perihal tradisi yang telah turun temurun dari generasi ke generasi.
Dalam suasana seperti itulah saya dan Marsini saling sepakat untuk meneruskan hubungan kami ke jenjang pernikahan. Kami bersepakat untuk membicarakan hal tersebut kepada orang tua masing-masing. “Tidak bisa !, pokoknya tidak bisa ! “ Kata Bapak pada suatu hari sesaat setelah aku menyatakan keinginanku mempersunting Marsini. “Kami saling mencintai Pak….” Sergahku. “Bapak tidak peduli, kamu mencintai Marsini atau Marsini mencintai kamu. Ini bukan masalah cinta, ada hal terpenting yang tidak boleh dilanggar oleh keluarga kita, keluarga besar Sastrorejodikromo” kata Bapak dengan mimik serius. “Apakah karena dari pertimbangan bibit, bebet dan bobot Marsini kurang bagus Pak?” Tanyaku penuh selidik. “Bukan, sama sekali bukan!” potong Bapak cepat sambil menyulut rokok dari tembakau lintingan. “Menurut bapak apakah karena Marsini kurang sopan ?” tanyaku sedikit gelisah dengan sikap bapak yang agaknya kurang sreg dengan pilihanku. “Sopan, dia anak baik” kata bapak sambil mengacungkan jari jempol kanan. “Lalu….apa yang menghalangi rencana pernikahan kami, Pak ?” tanyaku semakin gelisah.
“Kamu dan Marsini tidak bisa melangsungkan pernikahan karena menurut perhitunganku, pasaran hari lahir atau wetonmu dan weton Marsini temu dua puluh empat” Kata bapak menjelaskan. “Maksud Bapak?” tanyaku penuh tanda tanya besar tidak mengerti. “Wetonmu Rabu Legi, sedangkan weton Marsisni itu Kamis Wage, jadi tidak cocok untuk nikah” kata bapak sambil membuka-buka buku yang kelihatannya sudah kusam dimakan umur. “Pak….apalah artinya weton, hanya kebetulan saja aku dan Marsini dilahirkan pada hari tersebut” Ujarku memprotes. “Tidak ada artinya bagaimana ?” kata bapak dengan suara meninggi. “Lihat buku ini !” bapak menyorongkan buku bersampul coklat lusuh yang bertuliskan Primbon itu kepadaku.
“Coba baca….Weton rabu legi kalau dihitung-hitung mengandung makna angka dua belas, demikian pula weton kamis wage, mengandung makna angka dua belas. Nah…! Kalau keduanya dijumlah ketemu angka dua puluh empat. Itu angka keramat. Bapak tidak berani menanggung resiko di kemudian hari. “Maksudnya resiko apa Pak ?” tanyaku semakin tidak mengerti dengan penjelasan bapak. “Menurut buku ini dan pengalaman orang tua simbah buyutmu, siapa yang menikah antara laki-laki dan perempuan dengan perhitungan weton ketemu dua puluh empat akan mengalami punggel tengahe gawe, artinya putus di tengah perjalanan, tidak akan awet, banyak godaan, halangan dan rintangan besar menghadang dan pasti gagal. Bapak tidak berani melanggar ugeman ini” Kata bapak dengan mantap.
“Itukan hitungan orang kuno Pak…, kita hidup di zaman modern,jadi tidak zamannya lagi menggunakan perhitungan tersebut” akau mulai membela diri. “Hati-hati Bi kalau bicara, nanti bisa kualat” ujar bapak mengingatkan. “Astaghfirullah al adzim Pak….. kita khan orang beragama, mengapa harus percaya pada hal-hal seperti itu? mengapa kita harus menjadikan buku yang tak jelas siapa pembuatnya sebagai pedoman hidup kita?” tanyaku sambil menunjuk buku primbon itu.”Oooo…., jadi itu to hasilnya kamu mengajar di sekolah arab? mentang-mentang jadi guru ngaji, lalu berani sama bapakmu, menentang orang tua, menggurui Bapakmu yang sudah banyak makan garam kehidupan.. ” kata bapak sambil berkacak pinggang. “Nuwun sewu pak, Bapak jangan salah paham, bukan maksud saya menentang bapak”. ”Lalu apa !” kata bapak memotong.”Pokoknya bapak tidak setuju, sekali lagi saya tegaskan, kamu tidak bisa menikah dengan Marsini, kamu boleh menikah dengan perempuan siapapun, dengan syarat perhitungan wetonnya cocok, titik … !”.
Musyawarahku dengan Bapak berakhir dengan kebuntuan. Kuayunkan langkah ke belakang rumah menuju sungai kecil yang dialiri air bening nan jernih, ikan kecil berenang kian kemari dengan bebasnya, bebatuan kecil yang berlumut menambah indah aliran sungai, menampakkan ketenangan dan kedamaian. Tidak seperti hatiku yang gundah gulana, dadaku sesak, kepalaku pusing dan perasaanku tertekan. Kata –kata bapak “tidak bisa, pokoknya tidak bisa” terngiang kembali, seakan vonis yang mematikan rasa dan asaku, merenggut hasrat dan kemerdekaanku. Aku semakin masygul tatkala beberapa hari kemudian terdengar kabar, keluarga Marsinipun tidak setuju dengan rencana pernikahan kami dengan alasan yang sama, karena weton untuk menikah tidak cocok, bahkan Marsini dipaksa menikah dengan pemuda pilihan orang tuanya yang menurut mereka perhitungan wetonnya lebih bagus dan lebih cocok.

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s